IGD (0380) 8460111
SELAMAT DATANG DI WEBSITE RSUP BEN MBOI KUPANG

TBC

Pengertian

Tuberkulosis atau TB adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri tersebut dapat masuk ke dalam paru-paru dan mengakibatkan pengidapnya mengalami sesak napas disertai batuk kronis.

Penyebab TBC (Tuberkulosis)

Tuberkulosis (TBC) disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini menyebar ketika seseorang menghirup percikan ludah (droplet) saat penderita TBC batuk, berbicara, bersin, tertawa, atau bernyanyi.

Meski TBC dikategorikan sebagai penyakit menular, penularan penyakit ini tidak secepat pilek dan flu, namun ada beberapa kelompok yang berisiko tinggi tertular TBC, yaitu :

1.      Orang yang tinggal di pemukiman padat dan kumuh.

2.      Petugas medis yang sering merawat penderita TBC.

3.      Orang lanjut usia (lansia) dan anak-anak.

4.      Pengguna NAPZA

5.      Penderita penyakit ginjal stadium lanjut.

6.      Orang yang mengalami kekurangan gizi.

7.      Penderita kecanduan alcohol.

8.      Perokok

9.   Orang dengan kekebalan tubuh yang lemah, misalnya penderita HIV/AIDS, kanker, diabetes, orang yang menjalani transplantasi organ, dan lain sebagainya.

10. Orang yang sedang dalam terapi obat imunosupresif, misalnya penderita lupus, psoriasis, rheumatoid arthritis, atau penyakit Crohn.

 Patogenesis Tuberculosis

 TBC paru merupakan penyakit yang disebabkan oleh basil TBC (Mycrobacterium Tuberculosi Humanis). Karena ukurannya yang sangat kecil, kuman TB dalam percik (droplet nuclei) yang terhirup.

Penularan Tuberculosis

Sumber penularan adalah pasien TBC BTA positif melalui percik renik dahak yang dikeluarkannya. Namun, bukan berarti bahwa pasien TBC dengan hasil pemeriksaan BTA negatif tidak mengandung kuman dalam dahaknya.. Pasien TBC dengan BTA negatif juga masih memiliki kemungkinan menularkan penyakit TBC. Tingkat penularan pasien TBC BTA positif adalah 65%, pasien TBC BTA negatif dengan hasil

 

Gejala Tuberculosis

 Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat.

a. Gejala sistemik atau umum:

 1) Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah)

 2) Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Terkadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul

3) Penurunan nafsu makan dan berat badan

 4) Perasaan tidak enak (malaise), lemah

 b. Gejala khusus:

 1)  Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara “mengi”,suara nafas melemah yang disertai sesak.

2)  Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.

 3)  Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang

 4)  Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan di sebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demamtinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.

Pengobatan Tuberkulosis

Terdapat enam macam obat esensial yang telah dipakai sebagai berikut :

Isoniazid (H), para amino salisilik asid (PAS), Streptomisin (S), Etambutol (E), Rifampisin (R) dan Pirazinamid (P). Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip - prinsip sebagai berikut:

 a. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat,dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi). Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). Pengobatan TBC diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.Tahap awal (intensif) 

 a)  Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. Pengobatan tahap intensif tersebut apabila diberikan secara tepat, biasanya pasien menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.  Sebagian besar pasien TBC BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan. Tahap lanjutan Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama.

Pencegahan Tuberculosis

Tindakan pencegahan dapat dikerjakan oleh penderitaan, masayarakat dan petugas kesehatan. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan Oleh penderita, dapat dilakukan dengan :

1)  menutup mulut sewaktu batuk dan membuang dahak tidak disembarangan tempat.

2) Oleh masyarakat dapat dilakukan dengan meningkatkan dengan terhadap bayi harus diberikan vaksinasi BCG (Bacillus Calmete Guerin).

3) Oleh petugas kesehatan dengan memberikan penyuluhan tentang penyakit TBC yang antara lain meliputi gejala bahaya dan akibat yang ditimbulkannya.

 4) Isolasi, pemeriksaan kepada orang–orang yang terinfeksi, pengobatan khusus TBC. Pengobatan dirumah sakit hanya bagi penderita yang kategori berat yang memerlukan pengembangan program pengobatannya

5)   Des-Infeksi, Cuci tangan dan tata rumah tangga keberhasilan yang ketat, perlu perhatian khusus terhadap muntahan dan ludah (piring, tempat tidur, pakaian) ventilasi rumah dan sinar matahari yang cukup

6)  Tindakan pencegahan bagi orang–orang sangat dekat (keluarga, perawat, dokter, petugas kesehatan lain) dan lainnya yang terindikasinya dengan vaksin BCG dan tindak lanjut bagi yang positif tertular.

7)  Penyelidikan orang–orang kontak. Tuberculin-test bagi seluruh anggota keluarga dengan foto rontgen yang bereaksi positif, apabila cara–cara ini negatif, perlu diulang pemeriksaan tiap bulan selama 3 bulan

8)   Pengobatan khusus. Penderita dengan TBC aktif perlu pengobatan yang tepat obat–obat kombinasi yang telah ditetapkan oleh dokter di minum dengan tekun dan teratur, waktu yang lama (6 atau 12 bulan).

 

Pemeriksaan TBC (Tuberkulosis)

Jika pasien diduga mengalami TBC, dokter akan meminta pasien menjalani pemeriksaan dahak yang disebut pemeriksaan BTA.

Jika dokter membutuhkan hasil yang lebih spesifik, pasien akan dianjurkan untuk menjalani tes kultur BTA. Tes ini juga menggunakan sampel dahak pasien, tetapi memerlukan waktu yang lebih lama.

Selain pemeriksaan BTA, dokter dapat melakukan serangkaian pemeriksaan TBC lainnya untuk mendukung diagnosis, yaitu :

1.      Tes kulit mantoux atau tuberculin skin test.

2.      Tes darah IGRA (Interferon Gamma Release Assay).

3.      Bronkoskopi

4.      Foto Rontgen

5.      CT scan

 

Referensi

Budiyanti. 2021. Penyuluhan Pencegahan TBC di Era New Normal. Program Studi Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Bhatia, V, et al. 2020. Ending TB in Southeast Asia : Current Resources Are Not EnoughBMJ Global Health, 5(3), e002073.

Centers for Disease Control and Prevention. 2021. Tuberculosis. Basic TB Facts.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2021. Jadikan Penerus Bangsa Bebas TBC. Dimulai dari Diri Sendiri dan Keluarga.

National Health Services UK. 2019. Health A to Z. Tuberculosis.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2018. Pencegahan Tuberkulosis TBC (Tuberkulosis).

American Lung Association. 2020. Lung Health & Diseases. Tuberculosis (TB).

National Institute of Health. 2022. MedlinePlus. Pulmonary Tuberculosis.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2016. Petunjuk Teknis Manajemen dan Tatalaksana TB Anak.